Duh...jurinya payah, duh...jurinya gak ngerti anjing, duh...jurinya KKN, duh...jurinya !@#$%^&*. Kalimat seperti ini yang sering saya dengar dari para ekshibitor yang anjingnya tidak terpilih sebagai pemenang pada saat pameran anjing.
Apa benar juri tidak mengerti anjing?
Menjadi seorang juri bukanlah hal yang mudah. Seseorang yang ingin menjadi juri harus memiliki beberapa persyaratan yang ditentukan oleh masing-masing organisasi kinologi tiap negara. Seorang calon juri harus memiliki pengalaman menjadi seorang breeder sekian tahun, meraih gelar champion untuk anjing hasil biakannya sekian ekor, pengalaman mengikuti pameran sekian tahun, menjadi asisten juri sekian kali, mengikuti ujian teori dan praktek dari seorang juri yang memiliki lisensi untuk mendidik juri dan bahkan dibeberapa negara ada persyaratan minimal umur untuk menjadi seorang juri.
Dengan berbagai persyaratan diatas, pastinya seorang juri mengerti seluk beluk anjing apalagi kalau dia adalah juri spesialis suatu trah. Tapi mengapa sering kali juri memilih juara yang tidak sesuai dengan harapan para ekshibitor?.
Seusai pameran biasanya saya menyempatkan diri jika diberi kesempatan oleh panitia untuk berbincang-bincang dengan para juri. Disini saya bertanya kenapa memilih anjing tersebut, kenapa anjing yang ini tidak terpilih dan lain sebagainya. Berbagai jawaban dari berbagai juri yang terangkum di otak saya adalah sebagai berikut:
Apa benar juri melakukan KKN?
Dulu jaman kuda gigit besi, nama juri selalu dirahasiakan oleh panitia untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan yaitu KKN. Panitia khawatir jika membuka nama juri, maka ekshibitor akan mengkontak juri melalui surat, telepon atau email agar anjing dapat dipilih sebagai pemenang. Disisi ekshibitor, jika mereka tidak mengetahui siapa jurinya maka seperti membeli anjing dalam karung. Alasannya mereka ingin tahu siapa jurinya, apakah seleranya cocok dengan tipe anjingnya. Memang serba salah, ditutup ada untung ruginya dikedua belah pihak dan dibuka pun juga ada untung dan ruginya, buah simalakama.
Itu disisi panitia dan ekshibitor, bagaimana disisi juri?. Pernah seorang juri mengatakan kepada saya kalau memang benar ada ekshibitor yang mengirim foto anjing beserta handlernya via email dan meminta anjingnya untuk diingat agar terpilih menjadi pemenang. Pada saat pameran, sang juri memang mengingat anjing tersebut tetapi tidak dipilih sebagai pemenang karena sang juri menilai orang tersebut tidak menghargai dirinya sebagai seorang juri.
Rata-rata juri mengatakan kalau dirinya memiliki harga diri dan martabat sebagai seorang pribadi dan sebagai seorang wakil yang membawa nama organisasi kinologi negaranya. Untuk juri Indonesia, pada saat dilantik pun mereka diingatkan untuk dapat menjaga kehormatan diri sebagai juri dan menjaga nama baik Perkin selaku pihak yang memberikan lisensi menjuri dan juga menjaga nama bangsa di mata internasional.
Seorang juri yang melakukan KKN dengan memilih anjing milik koleganya layaknya seorang penjudi yang mempertaruhkan seluruh harta bendanya. Walau anjing tersebut memang bagus tetap saja akan menjadi omongan bagi orang.
Ada beberapa juri yang memilih mengamankan dirinya dengan tidak memilih anjing yang dimiliki orang yang dikenalnya sebagai pemenang, kecuali jika memang tidak ada pilihan atau kualitas beda jauh dengan anjing lainnya.
Selepas tulisan diatas, sejak adanya situs jejaring sosial seperti friendster atauFacebook, sepertinya semua ekshibitor mendapat kesempatan yang sama untuk melakukan KKN (Kalau bener juri mau atau bisa KKN). Lho kok bisa? Setiap ekshibitor yang memiliki account di situs jejaring sosial dengan leluasa meng-upload foto-foto anjingnya dan men-tag foto-foto tersebut ke teman-temannya yang ada pada friend list/daftar teman. Dengan mudah kita dapat merequest kepada para juri-juri yang juga memiliki account di situs jejaring sosial untuk didaftar sebagai temannya. Kalau semua mendapat kesempatan yang sama seperti ini, apa masih bisa disebut KKN?.
Semua berpulang kepada diri kita sendiri, kebanggaan apa yang diraih dan dirasakan jika kita melakukan kecurangan?, akan lebih puas jika kemenangan tersebut diraih dengan jerih payah dan jalan yang lurus. Kalau hanya ingin menang saja, kenapa tidak bikin pameran sendiri saja yang pesertanya hanya anjing milik sendiri?.
Selain ingin menang, mengikuti pameran adalah jalan untuk kita mengetahui sampai dimana jerih payah kita dalam membiakan atau jeli dalam membeli, memelihara dan melatih anjing. Optimus Prime dalam film Transformer yang pertama berkata: No Sacrifice No Victory. Kemenangan akan terasa lebih nikmat jika didapat dengan jerih payah.
Tulisan ini merupakan pendapat pribadi saya yang didapat dari bincang-bincang bersama juri-juri selama meliput pameran beberapa tahun ini di Indonesia. Jika ada yang tidak berkenan mohon dimaafkan tapi jika berkenan mohon direferensikan ke teman-teman anda.