Bener Gak Sih Jurinya Payah Atau KKN?

24 Agustus 2010 - 22:00
Oleh Bobby Sant.
Bener Gak Sih Jurinya Payah Atau KKN?

Duh...jurinya payah, duh...jurinya gak ngerti anjing, duh...jurinya KKN, duh...jurinya !@#$%^&*. Kalimat seperti ini yang sering saya dengar dari para ekshibitor yang anjingnya tidak terpilih sebagai pemenang pada saat pameran anjing.

Apa benar juri tidak mengerti anjing?

Menjadi seorang juri bukanlah hal yang mudah. Seseorang yang ingin menjadi juri harus memiliki beberapa persyaratan yang ditentukan oleh masing-masing organisasi kinologi tiap negara. Seorang calon juri harus memiliki pengalaman menjadi seorang breeder sekian tahun, meraih gelar champion untuk anjing hasil biakannya sekian ekor, pengalaman mengikuti pameran sekian tahun, menjadi asisten juri sekian kali, mengikuti ujian teori dan praktek dari seorang juri yang memiliki lisensi untuk mendidik juri dan bahkan dibeberapa negara ada persyaratan minimal umur untuk menjadi seorang juri.

Dengan berbagai persyaratan diatas, pastinya seorang juri mengerti seluk beluk anjing apalagi kalau dia adalah juri spesialis suatu trah. Tapi mengapa sering kali juri memilih juara yang tidak sesuai dengan harapan para ekshibitor?.

Seusai pameran biasanya saya menyempatkan diri jika diberi kesempatan oleh panitia untuk berbincang-bincang dengan para juri. Disini saya bertanya kenapa memilih anjing tersebut, kenapa anjing yang ini tidak terpilih dan lain sebagainya. Berbagai jawaban dari berbagai juri yang terangkum di otak saya adalah sebagai berikut:

  • Tipe Anjing & Selera Juri: Sebagaimana kita ketahui bahwasanya ada berbagai tipe anjing. Misalkan Golden Retriever ada tipe Amerika dan tipe Eropa. Jika juri berasal dari negara yang berkiblat ke tipe Eropa makanya dia akan memakai standarisasi anjing tipe Eropa pada saat menjuri. Pertanyaan tambahan dari saya biasanya adalah bagaimana jika semua anjing yang ada didalam ring adalah tipe Amerika?. Rata-rata juri menjawab, mereka akan memilih pemenang yang paling mendekati standarisasi yang telah diyakininya. Solusinya, ekshibitor harus mengetahui background sang juri, kalau anjingnya tipe Amerika tapi jurinya kiblat Eropa, sebaiknya tidak diikutsertakan. Kalau tetap mengikutsertakan, jangan ngomel kalau anjingnya tidak terpilih sebagai pemenang.
  • Kondisi & karakter Anjing: Andaikan ada 2 anjing, yang 1 bagus dan 1 nya lagi lebih bagus secara anatomi tetapi kenapa juri tidak memilih pemenang dari anjing yang lebih bagus?. Juri menjawab, yang lebih bagus tidak menampilkan diri dengan baik, anjing terlihat ngantuk dan tidak bersemangat. Sedangkan yang dipilih sebagai pemenang memang secara anatomi tidak lebih bagus hanya saja anjing tersebut tampil dengan semangat yang tinggi dan ceria. Percuma anjing memiliki anatomi istimewa tetapi tidak berkarakter ceria dan bersemangat tinggi karena pastinya anjing tersebut tidak dipelihara dengan baik. Solusinya, selalu jaga kondisi anjing dalam keadaan siap tampil di ring pameran dan pelihara dia dengan kasih sayang karena anjing yang dipelihara dengan baik ditambah dengan kasih sayang akan selalu menampilkan diri dengan ceria. Masalah ini harus lebih diperhatikan pada anjing tipe pekerja karena anjing tipe pekerja jika tidak memiliki semangat yang tinggi maka dia tidak bisa dianggap sebagai anjing pekerja.
  • Handler & Handling: Anjing beranatomi hampir sempurna dan bersemangat tinggi tapi tidak terpilih sebagai pemenang. Seorang juri pernah berkomentar, harusnya anjing itu menjadi pilihan pertama tetapi karena handler tidak menampilkan anjing dengan baik maka anjing hanya diposisikan di tempat kedua saja. Ada juga juri yang berkomentar, saya sudah meminta handler untuk melarikan anjing dengan formasi segitiga tetapi si handler tetap saja berlari dengan formasi mengelilingi ring. Juri meminta handler untuk tidak men-stand-kan anjing terlalu tinggi kepalanya sehingga garis punggung menjadi melengkung tetapi tidak didengar dan diperbaiki oleh handler. Lalu ada handler yang tidak bisa mengontrol anjingnya pada saat berlari (movement) sehingga anjing berlari seperti kelinci sedang berlari. Kemampuan handler dalam menampilkan anjing di ring pameran juga perlu diasah. Pelajari trik-trik handling agar dapat menampilkan anjing dengan baik. Pernah seorang juri menceritakan pengalamannya, dia menempatkan seekor anjing yang secara anatomi tidak terlalu sempurna di posisi kedua hanya karena si handler memungut kotoran anjingnya yang (maaf) berak pada saat penilaian dengan menggunakan sapu tangannya dan hal itu dilakukan spontan oleh si handler. Juri sangat menghargai sikap handler yang tahu diri didalam ring termasuk juga senyum yang manis dari sang handler.
  • Waktu Penilaian: Rata-rata waktu penilaian anjing oleh juri adalah sekitar 2 menit perekor. Kenapa hanya diberi waktu 2 menit perekor? Kalau 1 ekor 1 jam ya pameran baru kelar 2 minggu :-P. Seorang juri senior asal Australia pernah mengakui kalau dia kadang menyesal karena keliru memilih apalagi jika jumlah peserta di satu kelas terlampau banyak. Mungkin kalau dikasih waktu 1 jam sambil ngopi pasti juri lebih mudah melakukan penjurian. Solusinya: handler harus pandai melihat situasi, selalu menampilkan anjing dengan baik terutama pada saat juri sedang melirik ke anjingnya.

Apa benar juri melakukan KKN?

Dulu jaman kuda gigit besi, nama juri selalu dirahasiakan oleh panitia untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan yaitu KKN. Panitia khawatir jika membuka nama juri, maka ekshibitor akan mengkontak juri melalui surat, telepon atau email agar anjing dapat dipilih sebagai pemenang. Disisi ekshibitor, jika mereka tidak mengetahui siapa jurinya maka seperti membeli anjing dalam karung. Alasannya mereka ingin tahu siapa jurinya, apakah seleranya cocok dengan tipe anjingnya. Memang serba salah, ditutup ada untung ruginya dikedua belah pihak dan dibuka pun juga ada untung dan ruginya, buah simalakama.

Itu disisi panitia dan ekshibitor, bagaimana disisi juri?. Pernah seorang juri mengatakan kepada saya kalau memang benar ada ekshibitor yang mengirim foto anjing beserta handlernya via email dan meminta anjingnya untuk diingat agar terpilih menjadi pemenang. Pada saat pameran, sang juri memang mengingat anjing tersebut tetapi tidak dipilih sebagai pemenang karena sang juri menilai orang tersebut tidak menghargai dirinya sebagai seorang juri.

Rata-rata juri mengatakan kalau dirinya memiliki harga diri dan martabat sebagai seorang pribadi dan sebagai seorang wakil yang membawa nama organisasi kinologi negaranya. Untuk juri Indonesia, pada saat dilantik pun mereka diingatkan untuk dapat menjaga kehormatan diri sebagai juri dan menjaga nama baik Perkin selaku pihak yang memberikan lisensi menjuri dan juga menjaga nama bangsa di mata internasional.

Seorang juri yang melakukan KKN dengan memilih anjing milik koleganya layaknya seorang penjudi yang mempertaruhkan seluruh harta bendanya. Walau anjing tersebut memang bagus tetap saja akan menjadi omongan bagi orang.

Ada beberapa juri yang memilih mengamankan dirinya dengan tidak memilih anjing yang dimiliki orang yang dikenalnya sebagai pemenang, kecuali jika memang tidak ada pilihan atau kualitas beda jauh dengan anjing lainnya.

Selepas tulisan diatas, sejak adanya situs jejaring sosial seperti friendster atauFacebook, sepertinya semua ekshibitor mendapat kesempatan yang sama untuk melakukan KKN (Kalau bener juri mau  atau bisa KKN). Lho kok bisa? Setiap ekshibitor yang memiliki account di situs jejaring sosial dengan leluasa meng-upload foto-foto anjingnya dan men-tag foto-foto tersebut ke teman-temannya yang ada pada friend list/daftar teman. Dengan mudah kita dapat merequest kepada para juri-juri yang juga memiliki account di situs jejaring sosial untuk didaftar sebagai temannya. Kalau semua mendapat kesempatan yang sama seperti ini, apa masih bisa disebut KKN?.

Semua berpulang kepada diri kita sendiri, kebanggaan apa yang diraih dan dirasakan jika kita melakukan kecurangan?, akan lebih puas jika kemenangan tersebut diraih dengan jerih payah dan jalan yang lurus. Kalau hanya ingin menang saja, kenapa tidak bikin pameran sendiri saja yang pesertanya hanya anjing milik sendiri?.

Selain ingin menang, mengikuti pameran adalah jalan untuk kita mengetahui sampai dimana jerih payah kita dalam membiakan atau jeli dalam membeli, memelihara dan melatih anjing. Optimus Prime dalam film Transformer yang pertama berkata: No Sacrifice No Victory. Kemenangan akan terasa lebih nikmat jika didapat dengan jerih payah.

Tulisan ini merupakan pendapat pribadi saya yang didapat dari bincang-bincang bersama juri-juri selama meliput pameran beberapa tahun ini di Indonesia. Jika ada yang tidak berkenan mohon dimaafkan tapi jika berkenan mohon direferensikan ke teman-teman anda.

 

Kirim ke teman Cetak Komentar
Penilaian Saya:
Artikel Sebelumnya:
Artikel Selanjutnya:

Suara Kita Terkini

Komentar Terakhir